Fenomena guru dan siswa yg terlalu aktif bermedia sosial tiktok
Kritik terhadap Fenomena Guru dan Siswa yang Terlalu Aktif Bermedia Sosial TikTok: Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir dan Kualitas Pendidikan
- Pendahuluan
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Salah satu platform yang paling populer adalah TikTok. Aplikasi ini digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, siswa, hingga guru. TikTok menawarkan berbagai konten hiburan, informasi, dan edukasi yang dapat diakses dengan mudah. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat persoalan yang perlu dikritisi, yaitu kecenderungan guru dan siswa yang terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial sehingga berdampak pada kemampuan berpikir, kehidupan sosial, budaya, serta nilai-nilai agama.
-TikTok dan Menurunnya Kemampuan Berpikir
Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan dari penggunaan TikTok secara berlebihan adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis dan mendalam. TikTok menyajikan informasi dalam bentuk video singkat yang dapat ditonton hanya dalam hitungan detik. Akibatnya, pengguna menjadi terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melakukan proses analisis yang mendalam.
Pada siswa, kebiasaan ini dapat menurunkan minat membaca buku, menelaah materi pelajaran, dan melakukan diskusi yang membutuhkan pemikiran kritis. Banyak siswa lebih memilih menonton video pendek daripada membaca sumber belajar yang lebih lengkap. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kemampuan memahami informasi secara mendalam akan berkurang. Siswa mungkin mengetahui banyak hal secara sekilas, tetapi kurang mampu menjelaskan, menganalisis, dan mengembangkan pengetahuan tersebut.
Guru pun dapat mengalami hal yang sama. Jika terlalu fokus mengikuti tren media sosial, waktu untuk membaca referensi, mengembangkan metode pembelajaran, dan meningkatkan kompetensi profesional menjadi berkurang. Akibatnya, kualitas pengajaran dapat menurun karena guru lebih banyak mengonsumsi konten hiburan dibandingkan memperkaya wawasan keilmuan.
-Dampak terhadap Budaya dan Kehidupan Sosial
Selain memengaruhi kemampuan berpikir, penggunaan TikTok yang berlebihan juga berdampak pada budaya dan kehidupan sosial. Saat ini banyak pengguna yang lebih mengenal tren luar negeri daripada budaya lokalnya sendiri. Mereka lebih tertarik mengikuti tarian, gaya berpakaian, atau pola hidup yang sedang viral dibandingkan mempelajari nilai-nilai budaya daerah yang menjadi identitas bangsa.
Dalam kehidupan sosial, media sosial sering kali menciptakan hubungan yang bersifat virtual dan dangkal. Banyak siswa yang lebih sibuk membuat konten atau menonton video daripada berinteraksi dengan keluarga dan teman secara langsung. Padahal interaksi sosial yang nyata sangat penting untuk membentuk karakter, empati, dan keterampilan komunikasi.
Guru sebagai pendidik juga harus menyadari bahwa kehadiran mereka di dunia nyata lebih penting daripada popularitas di dunia maya. Pendidikan yang berkualitas lahir dari interaksi langsung yang penuh makna antara guru dan peserta didik, bukan hanya dari jumlah pengikut atau tayangan di media sosial.
-Dampak Psikologis
Dari aspek psikologis, penggunaan TikTok secara berlebihan dapat menyebabkan kecanduan. Banyak pengguna merasa sulit melepaskan diri dari media sosial karena selalu muncul konten baru yang menarik perhatian. Akibatnya, waktu belajar, bekerja, beribadah, dan beristirahat menjadi terganggu.
Selain itu, muncul pula kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Banyak siswa merasa minder ketika melihat kehidupan yang tampak sempurna di media sosial. Mereka mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah pengikut, suka, dan komentar yang diperoleh. Kondisi ini dapat memicu kecemasan, stres, bahkan menurunkan rasa percaya diri.
-Tinjauan dari Perspektif Agama
Dalam ajaran Islam, manusia diperintahkan untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkan akal untuk mencari ilmu. Rasulullah SAW menegaskan bahwa waktu merupakan nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak manusia. Oleh karena itu, penggunaan media sosial yang berlebihan hingga mengabaikan kewajiban belajar, bekerja, dan beribadah merupakan perilaku yang perlu dihindari.
Media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan penyebaran kebaikan apabila digunakan secara bijak. Namun, jika digunakan hanya untuk hiburan tanpa batas dan mengejar popularitas semata, maka manfaatnya akan semakin kecil dibandingkan dampak negatif yang ditimbulkannya.
-Kesimpulan
Fenomena guru dan siswa yang terlalu aktif menggunakan TikTok perlu menjadi perhatian bersama. Meskipun media sosial memiliki manfaat, penggunaan yang berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, mengurangi minat literasi, melemahkan interaksi sosial, memengaruhi kesehatan psikologis, serta menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat menghasilkan generasi yang kaya informasi tetapi miskin pemahaman, cepat menerima informasi tetapi lemah dalam menganalisis, serta aktif di dunia maya tetapi kurang produktif di dunia nyata.
Oleh karena itu, guru dan siswa harus mampu menggunakan media sosial secara bijak dan seimbang. TikTok seharusnya menjadi alat untuk belajar dan mengembangkan diri, bukan menjadi kebiasaan yang menghambat perkembangan intelektual, sosial, dan spiritual. Dengan pengelolaan yang tepat, media sosial dapat memberikan manfaat tanpa mengurangi kualitas pendidikan dan kehidupan manusia.
Artikel ini saya buat untuk menjadi bahan refleksi diri sendiri dan bersama serta tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi yang membaca

Komentar
Posting Komentar